Senin, 23 April 2012

One of These Days


Terik. Tiga puluh menit. Terbakar.

Lelaki itu mengusap peluh. Gelisah. Matanya menyipit menatap pintu itu dengan penuh harap. Ia mendengus tak sabar. Ditahan-tahannya diri untuk tidak melihat jam di pergelangan tangannya. Ia sudah melihatnya 1 menit yang lalu. Masih sama. Masih di angka 12, itu berarti belum cukup alasan untuknya merogoh saku, mengambil handphone dan mengeluh panjang pendek pada yang ia tunggu. Dia tahu terik yang ia rasakan adalah kesalahannya sendiri, ia yang memilih tempat dan waktunya.

Mendadak matanya sedikit berbinar tapi redup lagi ketika pintu biru itu terayun terbuka dan seorang perempuan keluar.. Yang baru saja keluar dari balik pintu itu, bukan yang ia tunggu-tunggu. Ibunya.

Ia melihat kesekelilingnya, sebentar lagi, sebentar lagi, bisik lirihnya sambil mengayun badan ke depan dan ke belakang. Tidak lagi berdiri, Ia memutuskan untuk duduk di bawah pohon, di dekat ayunan. Resahnya menjadi-jadi. Berkali-kali dia menatap bergantian pintu dan jam tangannya. Sudah jam 1 siang. Ibu seharusnya sudah keluar sekarang.

Bunyi bel sekolah melengking tinggi, dia gusar menutup telinganya. Dia tidak menyukai suara keras. Matanya tak berkedip, pintu biru itu tiba-tiba terhentak, dari sana berhamburan anak-anak sekolah. Saling dorong, teriak, gelak tawa, riuh. Ia memincingkan mata, menahan nafas kemudian lirih berhitung.

Ibu bilang ia harus berhitung  pelan-pelan sampai angka tiga puluh agar dia tidak sesak nafas. Karena  setiap dia merasa cemas, dia akan menahan nafas, setelah itu ia akan sesak nafas, ia tidak suka. Karena itu Ibunya selalu  menyuruh, setiap kali ia gelisah, dia harus berhitung sampai tiga puluh agar dia tidak lupa bernafas dan jadi sakit dadanya.

Riuh lautan anak-anak sudah mereda, perlahan dia bangkit berdiri, hitungannya hampir selesai. Tapi Ibu belum keluar juga, ia belum melihatnya hari ini, kemarin juga tidak. Tidak seminggu ini. Bibi bilang Ibunya tidak akan pulang karena sudah meninggal. Ia tidak percaya, Ibunya belum tua. Orang harus tua dulu baru bisa meninggal. Itu yang Ibu bilang.

Sudah jam 1 lebih, Ibunya belum keluar juga. Paniknya berubah menjadi frustasi. .

Ia ingin sekali berlari menyeberangi lapangan itu dan masuk ke dalam mencari ibunya, tapi takut. Ia mau ibunya ada disini, menenangkannya.

Perut bawahnya mulai geli.. …Airmata mengalir deras dari pelupuknya, ia menyesal telah mengotori celananya sendiri. "Anak laki-laki berumur 16 tahun tidak boleh ngompol. Tidak pantas"  Bibirnya bergetar mengulangi kalimat bibinya.

Like anyone would be
I am flattered by your fascination with me
Like any hot-blooded woman
I have simply wanted an object to crave
But you, you're not allowed
You're uninvited
An unfortunate slight

Must be strangely exciting
To watch the stoic squirm
Must be somewhat heartening
To watch shepherd need shepherd
But you you're not allowed
You're uninvited
An unfortunate slight

Like any uncharted territory
I must seem greatly intriguing
You speak of my love like
You have experienced love like mine before
But this is not allowed
You're uninvited
An unfortunate slight

I don't think you unworthy
I need a moment to deliberate

(uninvited – alanis morissette)

Minggu, 22 April 2012

Barbarian

For I am a butcher, nor a farmer.
I choose thebest cattle, took a good care on it and when the day came,
I slit thethroat, quick and easy through the vein.
And it gone.

Jumat, 23 Maret 2012

Need to let it out

'Sekali aja tolongin mama kamu, biar dia bisa kondangan di Jakarta', Her.

Nyah. For god sake.
Itu buat kepentingan pribadi lo, seinget gue.

I told you, gue ga punya duit. I have budget. I have list dan kondangan ga masuk disitu.
Please, ngerti kek.
It hurts my ego too kali, tapi gue musti realistis. My parent need medication and that's where my money goes lately.

I don't fucking care about wedding reception. I don't.

So, just shut up. I won't flew my mom just to accompany you to go to stupid wedding reception, I don't even think my mom really know the bride and groom.

Sigh. Please put this in mind 'your day is over, stop bossing'
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Kangen mantan dan segala hal bodoh yang kami lakukan.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Minggu, 18 Maret 2012

O.U.T

Ingatanku terlalu pendek untuk bisa mengingat kapan terakhir kali kamu berucap cinta.

Kata pengertian , perhatian dan sayang jadi lebih perkasa sejak hari itu.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sabtu, 10 Maret 2012

Say isn't it so

Sesenggukan ga bisa nangis itu malah rese ya rasanya.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Selasa, 06 Maret 2012

Reflection :
Gue inget dimana aja gue pernah komentar. Dan anehnya sampai sekarang gue inget gimana perasaan ngebaca semua itu.