Selasa, 29 November 2005

salute for meredith brooks

Perempuan

Satu lirik dari Meredith brooks, jaman waktu aku smp dulu,selalu bikin aku ketawa atau paling ga tersenyum menyadari keberadaan-ku- ke-perempuanan’ku-gender’ku –“who am I really is?’

I am a bitch!

Buat aku perempuan sama aja, pelacur, tapi itu hebatnya perempuan.

Bagi aku jadi pelacur “pintar” adalah hal lebih membanggakan ketimbang jadi ibu rumah tangga “normal”.

Buat aku jadi pelacur “biasa” itu pilihan, dalam arti sesungguhnya, melacur, menjual diri demi uang. Menjual vagina demi kebutuhan dasar, (sandang pangan papan) atau kebutuhan kapitalisme (aku juga butuh pake bedak-gincu, punya handphone, baju - Emang mati ya kalau ga pakai itu semua?).

Kadang aku masih terlalu “negative” memandang “pelacur” biasa, - buat aku bisa dianggap mereka perempuan tanpa otak yang tidak punya ketrampilan khusus untuk menghasilkan sesuatu, atau mungkin sebenernya lebih pada perempuan putus asa yang tidak punya hal lain untuk ditawarkan selain tubuhnya.

Kenapa - konsep pertanyaan ini selalu menggelitik.

  1. Apakah mereka benar2 tidak punya ketrampilan?
  2. Apakah mereka benar2 terpaksa untuk melakukan hal itu. Apa ini benar2 hal terakhir yang bisa dilakukan. (jangan2 cuma malas kerja fisik atau kerja pakai otak – mending ngangkang dapat uang?)
  3. Apakah hal ini tidak ada hubungannya dengan perasaan?

Soal ketrampilan, aku ternasuk orang yang berfikiran positif, semua bisa dipelajari kalau mau. Walaupun memang perlu fasilitas, tapi sementok2nya orang pasti ada jalan menuju ke-trampil. Atau memang ketrampilan mereka dalam hal seks seperti ini, memuaskan laki2.

Lalu, siapa yang memuaskan kami.

Perempuan yang datang ke gigolo, adalah perempuan gatal dan perempuan yang didatangi laki2 untuk dibayar berhubungan seksual juga perempuan gatal. Jadi semua perempuan yang berhubungan seks dengan pembayaran adalah perempuan gatal.

Hal terakhir atau tidak , aku tidak bisa mengerti dan menjawab - banyak cerita pahit perjalanan pelacur. Dijual suami, orang tua, dijebak pacar. Tanpa pilihan.

Aku sering meradang (tapi hanya dalam hati) dan akhirnya berbalik menjadi pertanyaan. Otak orang berbeda2? Aku meradang saat mereka bilang ini bukan pilihan karena memang tidak ada plihan a, b, c – ini keharusan. Satu2nya jalan keluar.

Suck!

Kenapa perempuan begitu lemah. Kenapa mereka tidak berfikir panjang. Semua jalan beresiko. (aku orang yang percaya “karma” – segala sesuatu pasti ada resiko, teori sebab-akibat )

Saat meradang dan merenung, hal lain datang. Pelacuran lebih tua dari pada umurku , atau umur Indonesia dan aku yakin – aku bukan satu2nya perempuan yang terusik dengan pertanyaan ini. Kenapa hal setua ini belum terjawab? Mekanisme bisa ditemukan, teori2 bisa dicetuskan – tapi kenyataan bicara lain.

Aku sering menghibur diri dan menyalahkan hal lain. Ini konspirasi Cupid dan Lucifer.

Cupid – dewa cinta (banyak pelacur, mengatasnamakan pekerjaan ini karena cinta – keluarga, anak, pacar, suami) dan Lucifer (si setan – dunia dan semua agama mengatakan PELACURAN bagian dari dosa – nafsu – dan dosa adalah milik setan).

Sekali lagi hal terakhir atau tidak- sorry I really don’t know. Orang berbeda-beda.

Mungkin buat aku, ini bukan hal terakhir yang bisa dilakukan. Tapi untuk perempuan tidak bisa baca tulis – atau tidak tamat sd – mau jadi apa?

Gawd! Aku tetap menolak ini sebagai hal terakhir yang bisa dilakukan untuk mencari penghasilan.

Come on, woman! Aku menganggungkan perempuan sebagai mahluk tangguh dan perkasa- dengan tingkat ketahanan luar biasa.

Sangat menjengkelkan, saat mereka bilang ini jalan keluar. Oke, untuk berapa lama?

Tapi tiap kali bertanya, jawaban balik dari otak , datang menampar – aduuh, loe ngomong doang! Apa yang udah kamu buat untuk hal ini?—mungkin diam, berbuat. Baru ngomong,

Jadi yang bemasalah sebenernya juga bukan hanya pemain “Pelacur” tapi juga komentator seperti aku.

Soal perasaan, aneh.

Ada dua macam perkiraan menurutku.

  1. Mereka bangga, unggul – dibanding perempuan2 lain yang mengabdikan bukan cuma memeknya tapi hidupnya, perasaannya atau jiwanya. Tanpa ikatan yang menyesakkan.
  2. Dan mereka sedih, standard’lah. Tanpa cinta, jaminan, stigma negative dari masyarakat negative.

Yang ke-dua membawaku ke pertanyaan lainnya. Apakah seks bisa dinikmati dengan perasaan tertekan? Apakah laki2 yang datang tidak peduli dengan ekspresi (atau mereka sudah terlatih menggunakan ekspresi “uh-ahh-uuh?) Kalau laki-laki ini tidak peduli dengan semuanya. Apa bedanya jika cuma dipegang2? Ga tau deng, belum pernah having seks yang beneran.

(Just for your information, dari cerita temen2 “perempuan” gue yang udah married atau tepatnya udah pernah have sex – most of them said ‘ sex is nothing, it’s just a daily conversation. Standard, malah kebanyakan dari mereka nyelesain sendiri. Poor boys, they think that their great. –satu kesimpulan baru, women are great actress J )

Tidak banyak yang aku tahu, aku tidak pernah benar2 kenal dengan pelacur perempuan.

Tapi pengunjung pelacur, aku kenal beberapa – dan satu mantan gigolo.


Tidak ada komentar: